Hot! Desa di Sumut Jadi Sentra Produksi Cabai, Omzet Ratusan Juta

Sabtu, 31 Jul 2021 23:21:01    Admin Desa
.

Sumatera Utara - 

Salah satu desa yang berjarak 120 Km dari Kota Medan, Sumatera Utara, bisa dikatakan menjadi salah satu lumbung cabai terbesar di Sumatera Utara. Dengan lahan seluas 85 hektare, desa ini mampu menghasilkan 18 ton cabai per hari.

Desa tersebut adalah Desa Lubuk Cuik, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Desa ini adalah salah satu dari sekian banyak desa yang berada di Kecamatan Lima Puluh Pesisir sebagai penghasil cabai.

Salah satu petani cabai yang juga Ketua Kelompok Tani Makmur, Salidi. Ia mengatakan awalnya Desa Lubuk Cuik adalah sentra penanaman padi yang kemudian dicoba untuk ditanami cabai.

Ia menceritakan petani mencari cara untuk menanam tanaman palawija lain ketika masa panen padi sudah berakhir. Sayangnya, saat itu tanaman palawija tidak berhasil dengan maksimal.

"Dengan berjalannya waktu dan dicoba kembali, ada sekitar 5 petani, setelah panen padi lalu mereka menanam timun dan ternyata bisa. Kemudian di panen padi berikutnya dicoba untuk menanam semangka ternyata bisa juga," ujar Salidi kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Setelah sukses menanam berbagai macam tanaman, para petani mencoba untuk menanam cabai. Hasilnya adalah kini Desa Lubuk Cuik menjadi salah satu lumbung cabai terbesar di Sumatera Utara.

"Awalnya sih istilahnya kalau menanam cabai itu seperti mengurus bayi karena banyak ketakutan untuk menanam cabai jadi hanya beberapa orang saja. Sampai beberapa musim ada juga tantangan dari petani lain dengan lahan irigasi yang seperti ini," ujar Salidi.

Usai sukses, sekitar tahun 2011 tren menanam cabai pun mulai diikuti oleh puluhan orang. Di tahun 2012, lahan cabai semakin bertambah luas, dan diikuti oleh desa-desa di kabupaten yang sama.

"Pada akhirnya desa-desa lain mengikuti menanam cabai juga seperti Desa Pematang Tengah, Desa Gambus Laut, Desa Perupuk, mereka belajar dari desa sinilah. Sampai menyentuh 500 ha lahan yang dijadikan untuk menanam cabai," ujarnya.

Salidi juga mengatakan dari total 85 hektare lahan yang ada di Desa Lubuk Cuik, rata-rata sawahnya adalah milik perseorangan. Ada juga beberapa yang menyewa. Namun, sebagian besar petani bergabung ke dalam kelompok tani.

Ia mengatakan pembentukan kelompok tani dibuat agar jadwal untuk penanaman padi dan cabai seragam. Sebab, bila penanaman cabai berbeda satu bulan, tanaman yang terlambat tanam bisa gagal.

"Jadi lah harus ada pola tanamnya agar serentak dan semua petani bisa merasakan hasilnya. Jadwal tani didapat melalui musyawarah antar masyarakat. Kalau tidak ada pola tanam, akan jadi berantakan sistem panennya dan mempengaruhi hasil panen," ujarnya.

Hasilnya, Desa yang menjadi binaan PT Indonesia Asahan Aluminium ini mampu memproduksi 15-18 ton per harinya. Bila merujuk ke harga cabai paling tinggi yang pernah mereka dapatkan yaitu Rp 50.000/kg, Desa Lubuk Cuik mampu meraup omzet sebesar Rp 900.000.000 untuk sekali panen.

"Untuk produksi (Lubuk Cuik dan sekitarnya) sampai puncak-puncaknya itu bisa sampai 25-50 ton. Kalau Lubuk Cuik sendiri karena hanya 85 Ha, per harinya mungkin 15-18 ton. Penjualan produksi sebagian besar ke lokal yaitu di Batubara, kemudian ke Medan, Pekanbaru, Riau, Padang, Dumai dan Batam," ujarnya.

Sementara itu, sekretaris Desa Lubuk Cuik, Misno mengatakan masyarakat desa pada awalnya menanam padi sebagai mata pencaharian utama. Naas di tahun 2006, desa mengalami sebuah bencana banjir dahsyat dan merendam lahan pertanian di desa ini. Selang, 2 tahun warga pun memutuskan untuk menanam cabai.

"Karena dirasa cabai merah ini dinilai bisa menaikkan taraf hidup masyarakat dan meningkatkan ekonomi desa Lubuk Cuik. Lalu bergabunglah membuat kelompok tani dan jadilah luas lahan cabai merahnya sekitar 85 Ha," ujar Misno.

Misno juga menuturkan karena Desa Lubuk Cuik dilintasi oleh 5 tower jaringan transmisi dari PT Inalum, pihak dari Inalum banyak memberikan bantuan kepada desa, dan sebagian besarnya diberikan ke kelompok tani.

"Sampai sekarang, sebanyak 17 orang sebagai mitra di binaan Inalum. Bantuan yang diberikan PT Inalum berupa alat semprot, mulsa, pupuk, benih, dan lain-lain, termasuk saung, jalan, dan irigasi yang pernah di laning oleh PT Inalum, ikon cabai juga dibuat oleh PT Inalum," ujarnya.

Sebagai informasi, Desa Lubuk Cuik merupakan desa binaan PT Inalum yang letaknya 14 km dari Kantor Utama Pabrik Peleburan di Kuala Tanjung. Desa ini dilewati oleh 5 asset utama Inalum yaitu tower jaringan transmisi nomor 253-257.

SHARE

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment